1. Home
  2. gaya
  3. hidup
  4. Mobil Timor, Penuh Kontroversi tapi Masih Dicari

Mobil Timor, Penuh Kontroversi tapi Masih Dicari

0
0

Indotnesia, JAKARTA –  Sebelum Esemka digadang-gadang akan jadi mobil nasional, Indonesia pernah memiliki Teknologi Industri Mobil Rakyat (Timor) atau dikenal dengan mobil timor. Populer pada akhir 90-an, Timor menjadi primadona masyarakat karena merupakan mobil murah Indonesia pertama. 

Meski ditawarkan dengan harga murah, sedan kecil yang diproduksi oleh PT. Timor Putra Nasional ini memiliki fitur mentereng pada masanya. Salah satunya, kualitas mesin yang mumpuni. 

Diluncurkan di Jakarta pada 8 Juli 1996, proses produksi Timor sepenuhnya dilakukan di Korea Selatan karena fasilitas perakitan di Indonesia yang belum siap.

Secara utuh, Timor lalu diimpor dari Korea Selatan ke Indonesia. Biarpun termasuk barang impor, mobil timor  mendapatkan pembebasan pajak barang mewah sebesar 60%. Hal itu membuat harga mobil timor dijual lebih murah dibandingkan mobil lain dengan spesifikasi yang sama. 

Kebijakan pembebasan pajak tersebut menimbulkan persoalan hingga digugat ke World Trade Organization (WTO) oleh perusahaan Jepang. Hal itu, membuat sejarah mobil timor dikenal kontroversial. 

Setelah satu tahun masa debut, produksi Timor berhenti seiring dengan krisis moneter 1998 yang melanda dan lengsernya Soeharto. Namun, meski sudah tidak diproduksi lagi, Timor masih eksis di tengah masyarakat.

Mobil Timor Menolak Punah

Produksi mobil timor hanya berlangsung selama dua tahun. Meski singkat, Timor masih hidup di tengah masyarakat, menyatukan para pecintanya menjadi sebuah komunitas. Salah satunya, Komunitas Timor-er di Jakarta.

Sedan yang identik dengan Tommy Soeharto ini juga masih punya tempat di hati anak muda. Menurut salah satu anggota Timor-er, Aji, Timor memiliki daya tarik tersendiri meski tidak lagi diproduksi. 

“Kalau bagi saya anak muda banget, mau diapa-apain kaya apa, ayo. Seperti ini (menunjukkan modifikasi mobilnya) saya ceperin. Pokoknya anak muda banget deh,” ujarnya.

Seakan menolak punah, pamor Timor sebagai mobil nasional tak memudar. Ada alasan khusus mengapa Timor tetap eksis. Bagi Roni, Divisi Usaha Komunitas Timor-er Jakarta, harga mobil timor murah dengan kualitas yang tak kalah saing.

“Yang pasti price for value. Jadi, dengan harga yang seminimal mungkin, tetapi dapat value semaksimal mungkin. Itu mungkin yang bisa didapatkan dari Timor ini. Artinya, tidak perlu terlalu mahal tapi kita bisa mendapatkan yang levelnya jauh di atasnya,” katanya.

Kualitas pada mesin jadi salah satu alasan Timor tak ditinggal penggemarnya. Meski bentuknya hampir serupa, jenis mobil timor dibedakan berdasarkan mesinnya, yaitu Single Over Heat Camshaft (SOHC) atau Double Over Heat Camshaft (DOHC).

Perbedaannya, SOHC masih karburator sedangkan DOHC sudah injection. Hal itu yang menjadi ciri mencolok untuk membedakan variannya.

Tidak hanya Komunitas Timor-er di Jakarta, masih ada 44 klub di 44 kota seputar Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Salah satu klub, yaitu Mobil Timor Community (MTC) bahkan memiliki 23 Cabang di 23 Kota sekitar Jawa Timur dan Bali. 

Masih banyaknya pemilik dan penggemar Timor, membuat denyutnya masih bertahan di Tanah Air hingga saat ini. Usia produksinya boleh tua, tetapi nilai sejarah mobil timor memiliki arti tersendiri bagi pecintanya.  

Menjadi saksi bisu usaha pemerintah Indonesia dalam memproduksi mobil nasional, mobil timor tetap menjadi kebanggaan.

Asy Syaffa Nada biasa dipanggil Syafa. Selain suka menulis, dia juga hobi gambar yang lucu-lucu. Kalau mau kenalan atau lihat koleksi gambarnya bisa cek @dudelthings