1. Home
  2. gaya
  3. hidup
  4. Marjinal: Komunitas Taring Babi, Tolak Stigma Anak Punk dan Ketidak-adilan

Marjinal: Komunitas Taring Babi, Tolak Stigma Anak Punk dan Ketidak-adilan

0
0

Indotnesia, JAKARTA – Bukan dari namanya saja, penampilan anak punk yang bertato, bertindik, berambut  gimbal, mowhak, kucel, dan urakan kerap membawa kita pada stigma.

Stigma tersebut kemudian ingin dibantah oleh kehadiran Komunitas Taring Babi. Bermarkas di Gang Setiabudi, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, komunitas ini kemudian membentuk sebuah grup band bernama ‘Marjinal’. Sebagian dari kalian pasti nggak asing lagi kan?

Marjinal sendiri merupakan band musik punk yang terbentuk pada 1997. Sebelum mengambil Marjinal sebagai nama grupnya, mereka pernah juga mencoba memberi nama Anti Abri dan Anti Militerisme. Nama-nama tersebut dipilih bukan tanpa maksud, tetapi karena buah pikiran yang akan dituangkan melalui lagunya.

Sebut saja lagu Buruh Tani yang dipopulerkan oleh Marjinal. Walaupun bukan ciptaan Marjinal, tetapi band punk ini tertarik mengangkat lagu Buruh Tani karena menceritakan tentang keadilan. 

Lagu itu menyampaikan tentang harapan keadilan di negeri ini kepada kaum buruh, tani, dan rakyat kecil. Melalui lagu, mereka menyampaikan kritik secara bebas kepada pemerintah. Buruh Tani pun kemudian menjadi lagu-lagu yang selalu digemakan saat aksi-aksi mahasiswa– yang baru ini aksi menolak Omnibus Law.

Ada juga Negeri Negri yang mengandung lirik satire tentang kemanusiaan. Lirik-lirik tersebut mencoba untuk mengkritik pemerintah melalui alunan lagu punk. Atau Marsinah, yang terinspirasi dari seorang tokoh yang identik dengan perjuangan kaum buruh.

Melalui karya, band Marjinal ingin memerangi diskriminasi pada kelompok marginal termasuk punk.

“Pikirannya, pasti kerjaannya mabuk, pasti kerjaannya membuat onar, kriminal, dan segala hal. Itu yang memang sudah tertanam ya, secara doktrinasi,” kata Gitaris Marjinal, yang juga salah satu pencetus Taring Babi, Mikail Israfil.

Pria bertato yang kerap disapa Mike itu menyatakan, komunitasnya berusaha untuk belajar dan memahami masyarakat tempat mereka berada. Namun, perlakuan berbeda tetap mereka rasakan.

Komunitas punk ini tentu saja menolak ketidakadilan yang sering diterima oleh mereka. Markas Komunitas Taring Babi pun pada awal dibentuknya sempat mengalami diskriminasi. 

Awalnya, masyarakat sekitar menolak. Namun bukannya menyerah, mereka malah membuktikan dengan melakukan berbagai kegiatan positif.

Bukan hanya bermain musik dan mendirikan Marjinal, Mike dan kawan-kawannya menjadikan Taring Babi sebagai bengkel untuk berkarya. Mereka membentuk kelompok studi yang membahas buku-buku dan mengkritisi kebijakan pemerintah melalui karya. 

Selain itu, beberapa kegiatan seperti membuat kerajinan tangan, belajar bermusik, melukis, dan menyablon, dilakukan dengan melibatkan warga sekitar.

“Di sini kita membuka diri. Membuka secara bebas, sebebas-bebasnya, free, untuk siapa saja, tanpa melihat dari penampilan dan latar belakang, bibit, bebet, bobot, dan segala hal,” ujar Mike.

“Di sini, kita lebih memanusiakan manusia sebagai manusia apa adanya, untuk siapapun yang mau mengakses segala hal yang ada di tempat kita ini,” tambahnya.

Bengkel Taring Babi menjadi tempat mereka untuk berkarya dan menjadi diri sendiri– bukan punk yang urakan. Tentu saja, tidak semua anak punk seperti mereka, tetapi mereka bisa membuka pandang kita dari stigma kebanyakan orang.

Karakter seseorang memang tidak bisa dilihat dari penampilan luarnya saja. Mereka yang bertato, bertindik, dan terlihat menakutkan ternyata telah melakukan hal-hal untuk melawan ketidakadilan. Lalu, apakah sekarang kita masih langsung menilai seseorang dari penampilan luarnya?

Dwi Wulandari Memiliki berjuta ide cerita yang siap dituangkan kapanpun dibutuhkan. Suka tertawa lepas dan seringkali receh tanpa sebab.